Oleh
: Bachtiar Firdaus S.T., M.P
Kepemimpinan profetik merupakan intisari yang di berikan di Rumah
Kepemimpinan. Kenapa Rumah Kepemimpinan? Karena dalam hadist disebutkan bahwa
setiap dari kita adalah pemimpin. Dan kita yang sudah diberi kesempatan untuk
masuk dirumah kepemimpinan harus selalu memperbaiki niat. Niatlah yang
membedakan kita di Rumah Kepemimpinan. NIAT, ya. Ada seribu niat yang yang bisa
mengeluarkan kita di RK, tapi hanya ada 1 niat yang bisa membuat kita bertahan
di RK. Anda adalah pemimpin, meskipun memimpin itu baik, tapi niatlah yang
membuatmu bertahan.
“Allah telah mengirim kamu untuk mengeluarkan siapa yang Dia
kehendaki dari penghambaan kepada Allah, dan dari sempitnya dunia menuju
kekuasaan dunia akhirat, dari penyimpangan agama yang ada menuju keadilan
Islam’. Perkataan Rubai bin Amir kepada
Panglima Persia Rustum.
Kepemimpinan Profetik.
Dalam konsep kepemimpinan ini, misi kita adalah membebaskan diri
dari Tuhan-Tuhan selain Allah, dan Kemudian membebaskan orang lain dari
Tuhan-Tuhan kecil selain Allah. Kepemimpinan Profetik ini dapat kita pelajari
dan analisa dari kisah kepemimpinan Nabi-Nabi dalam Al- Quran.
Konsep Kepemimpinan Profetik Menurut Alm. Prof. Dr. Kuntowijoyo
berdasar QS Ali- Imran : 110 bahwasanya Kepemimpinan Profetik membawa 3 misi,
yaitu :
1.
Humanisasi
2.
Liberalisasi
Visi ini
bertujuan membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan ketertindasan.
Kita tidak boleh merasa baik, merasa sholeh/ah sebelum kita membuat orang lain
menjadi baik, mebuat orang lain menjadi sholeh.
3.
Misi
Trasendensi/ Tu’minuna billah.
Misi yan
berfungsi untuk mebuat kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan hati dan
bersikap ikhlas kepada segala yang telah dilakukakn. Yang nantinya akan
menyelamatkan kita di akhirat.
SESI 2
Pentingnya sejarah adalah kita dapat belajar dari kejadian-kejadian
masa lalu, lalu mengambil hikmah dan menggunakannya untuk perbaikan di masa
depan. Lewat sejarah pulalah kita mengetahui bahwasanya dulunya ummat Islam
pernah berjaya dan menguasai peradaban. Ummat Islam penjadi kiblat keilmuan
dari seluruh bangsa. Dengan sejarah itulah kita dapat mengambil ilmu, pelajaran
yang dapat digunakan untuk mengubah peradaban sekarang ini.
Keniscayaan Perubahan
Orang yang bisa berubah adalah orang
yang bisa membaca tanda dan arah perubahan. Orang tersebut dapat mengerti
kearah mana pergerakan yang ada di lingkungannnya. Untuk memperkuat arah baca tersebut, perlu didukung dengan
membaca buku yang membahas tentang masa depan.
Dalam
perubahan tersebut, Allah SWT harus senantiasa terlibat dalam proses perubahan.
Karena Allah merupana faktor penentu keberhasilan perubahan kita. Kemudian,
setiap proses perubahan dan peristiwa sejarah harus dilihat dari 2 perpestif,
yakni materialis dan trasedental.
Arah gerak perubahan itu dari keadaan buruk ke arah yang baik. Keadaan buruk itu membaca
bencana. Jangan lagi terjebak status quo atau yang sering disebut dengan zona
nyaman. Zona nyaman ini membuat diri kita meganggap bahwa diri ini adalah
kurcaci-kurcaci. Padahal, sebenarnya kita adalah seorang raksasa. Buat diri ini
untuk mengeksplor segala potensi-potensi dalam diri.
Titik Tolak dan Metode Perubahan
Nabi Muhammad SAW dalam membangun masyarakat muslim baru di kota
Madinah mendasarkan pada kekuatan :
1.
Kesatuan visi
dan orientasi hidup (dengan langkah
membangun masjid)
2.
Semangat
kesatuan dengan solidaritas (mempersaudarakan muhajirin dan anshar)
3.
Kemandirian
dalam bidang ekonomi (membangun pasar muslim yang dipisah dari pasar yahudi)
4.
Kedaulatan
politik umat (perjanjian Madinah)
Prinsip
Perubahan dalam Islam adalah dimulai dalam diri, dari diri sendiri dan untuk
kemaslahatan diri. PAKSA! PAKSA! PAKSA!
Memaknai
perubahan dapat dilihat dari 4 point berikut :
1.
The small act
big and the big small act small
2.
Dont build
wills
3.
Scenario
planning
4.
The best
organization are the best colaborators.
Perubahan
itu dari kesadaran pribadi.
Oleh
: Bachtiar Firdaus S.T., M.P
Tidak ada komentar:
Posting Komentar