Kajian
Aqidah
Oleh
: Ustadz Afifi
Nikmat
adalah hal yang tidak bisa kita hitung, belum tentu kita tau dan kita
mensyukurinya. Bahkan nikmat yang kita ketaui pun belum tentu kita
mensyukurinya, apalagi nikmat yang belum kita ketahui. Dengan taat dan istighfar adalah bagian dari
bersyukur. Keutamaan Istighfar ini dapat dilihat dari beberapa perintah Allah.
Contohnya Arafah, yang merupakan puncak ibadah haji, kita disuruh untuk
menunduk dan kemudian diiringi dengan istighfar. Dalam Dakwah Nabi Muhammad
sampai kemudian diberi Makkah, Allah menyuruh untuk beistighfar.
Ada
2 nikmat yang telah Allah berikan, dimana dari kedua nikmat ini tidak tau mana
yang lebih utama, yaitu
1. Allah
telah memberi hidayah kepadaku sebagai seorang Islam
2. Allah
tidak menjadikan akan diantara golongan orang kafir.
Nikmat
ini menjadi penentu nikmat-nikmat lainnya. Rasulullah menjanjikan jaminan
kesuksesan, kebahagiaan pada Islam dan Iman. Sungguh sukseslah orang-orang
beriman, sungguh beruntung orang yang Islam. Karena kebahagiaan yang haqiqi
adalah bersama Islam. Lantas, sudahkah kita berislam dan beriman?.
Hakikat
orang berbahagia ialah “hati yang tenang dan jiwa yang lapang”. Namun, banyak
orang yang membayangkan kebahagiaan fatamorgana, bayangan semu. Ada juga yang
membayangkan bahwa kebahagiaan itu bila sudah tenar dan kaya raya. Kebahagiaan
itu letaknya di hati. Hati yang dipenuhi keimanan ialah hati yang berisi
kebahagiaan yang haqiqi (sejati).
Orang
hidup itu paketnya menyenangkan dan menyusahkan. Bagi orang mukmin, kedua hal
itu adalah baik. Jika ada yang menyusahkan maka diubah. Jika ada kenikmatan,
bersyukurlah dia (orang mukmin) dan itu baik untuk dia. Dan jika ada kesusahan,
bersyukurlah dia, dan itu baik untuk dirinya. Orang yang selalu bersyukur,
hatinya selalu dipenuhi oleh Allah. Ketenangan hati merupakan kebahagiaan
dunia.
Saat ini, kita telah diberi kenikmatan berupa koneksi saudara yang cukup , uang
cukup dll. Namun, akan datang hari dimana harta dan anak laki-laki anda tidak
berguna lagi. Demi harta dan kekuasaan, hari ini banyak orang yang rela
mengorbankan aqidahnya. Padahal akan datang hari dimana Allah tidak menerima
apapun, walaupun pahala seberat bumi. Akan datang hari dimana kawan dekat tidak
peduli dengan orang-orang lain. Setiap orang sibuk dengan urusannya
masing-masing.
Hakikat rugi adalah rugi diakhirat, yang merugikan diri
sendiri dan keluarga. Senikmat apapun nikmat di dunia, pasti tercampur dengan
kesulitan. Ada 3 pilihan mempergunakan
harta:
1.
Dibelikan
kemudian habis. Makanan
2.
Dipakaikan
kemudian usang. Pakaian
3.
Disedekahkan
kemudian kekal.
Jadilah orang dengan
orientasi akhirat. Karena dunia yang kita nikmati itu sedikit, dan di akhirat
kita nikmati banyak.
Hidayah
islam itu sangat mahal. Islam yang lurus merupakan nikmat yang sangat besar.
Karena dunia kita penuh dengan fitnahan, orang y tidak keluar dari fitnahan
kecuali dengan yang berbekal ilmu (Ar- Risalah) yang dibawakan Rasulullah SAW.
Ilmu ini akan menyelamatkan dari fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Fitnah
syahwat yang merusak hati dan fitnah syubhat yang merusak akal pikiran.
Hati
merupakan kehidupan dari jasad. Orang yang selalu memenuhi jasad, layaknya
hidup seperti binatang. Hayatul Qolbi, kehidupan hati merupakan kehidupan iman.
Iman yang hidup dihati, hatinya akan hidup. Hati dengan amal kebaikan bagaikan
jantung dan darah. Menjadi komponen penting bagi tubuh. Hati yang hidup, maka
amal-amalan akan dijalankan. Sedang hati yang mati, akan susah meniti jalan
kepada Allah. Dan hati yang hidup, maka mudah meniti jalan kepada Allah.
Faktor
yang menentukan seseorang bersyukur ialah dimana selalu menyadari kenikmatan Allah.
Untuk mensyukuri nikmat Allah dilakukan dengan:
1. Selalu
mengingat nikmat Allah.
Maka kita akan senantiasa beryukur.
Jangan sekali-kali kita menjadi orang yang melupakan Allah.
2. Melalu
kawan-kawan dekat kita.
Siapa orang kita jadikan kawan dekat dan
kita pergauli itu ada 4 macam, yaitu:
a. Orang
yang modelnya seperti makanan.
Yang kita butuhkan melebihi yang kita
inginkan, yaitu ulama. Kebutuhan akan ilmu itu seperti taarikan nafas. Orang
yang terputus dengan ilmu, matilah hatinya.
b. Orang
modelnya seperti obat.
Yang kita telan ketika butuh. Orang-orang yang
kita butuhkan ketika kita butuh. Contohnya tukang sayur.
c. Orang
yang modelnya seperti penyakit.
Dimana, orang yang kita gauli menularkan
penyakit. Penyakit sikap, perilaku dll yang buruk.
d. Orang
yang modelnya seperti racun.
contohnya ahli bid’ah, yang menyuntikkan
radun pemikiran-pemikiran kepada orang lain.
3. Berdoa
kepada Allah SWT.
Berdoa kepada Allah merupakan cara kita untuk
berkomunikasi dengan-Nya. Jangan tinggalkan doa itu setelah sholat.
Hikmah diantara orang
yang tidak beriman, namun memiliki kenikmatan, karena :
1.
Allah itu
Ar-Rahman
Memberi
kenikmatan kepada semua orang. Perbandingan nikmat dunia itu seperti tangan
yang di celup ke lautan. Dan nikmatnya berupa sisa air yang menempel pada tangan.
Oleh karena itu, hidup harus di orientasikan untuk akhirat. Dunia itu berjalan
meninggalkan kita, sedang akhirat berjalan mendekati kita, dan pintunya adalah
KEMATIAN.
2.
Dunia itu murah,
dunia itu singkat.
Karena
mudah didapat, dan langsung dirasakan, sedang akhirat belum dirasakan. Oleh
karena itu jangan sampai tertipu dengan nikmat dunia.
Allah
SWT selalu mengingatkan “dunia yang bermanfaat, yang menguntungkan akhirat”. Ingat
bahwa nikmat yang sesungguhnya adalah nikmat iman dan nikmat Islam. Dan hendaklah
setelah kita Islam, kita minta untuk di Istiqomahkan.
Seluruh
kenikmatan, masih dibawah kenikmatan hidayah. Seluruh kenikmatan kesengsaraan,
masih di bawah kesesatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar