Jumat, 30 September 2016

Nikmat Iman dan Nikmat Islam

Kajian Aqidah
Oleh : Ustadz Afifi

Nikmat adalah hal yang tidak bisa kita hitung, belum tentu kita tau dan kita mensyukurinya. Bahkan nikmat yang kita ketaui pun belum tentu kita mensyukurinya, apalagi nikmat yang belum kita ketahui.  Dengan taat dan istighfar adalah bagian dari bersyukur. Keutamaan Istighfar ini dapat dilihat dari beberapa perintah Allah. Contohnya Arafah, yang merupakan puncak ibadah haji, kita disuruh untuk menunduk dan kemudian diiringi dengan istighfar. Dalam Dakwah Nabi Muhammad sampai kemudian diberi Makkah, Allah menyuruh untuk beistighfar.
Ada 2 nikmat yang telah Allah berikan, dimana dari kedua nikmat ini tidak tau mana yang lebih utama, yaitu
1.      Allah telah memberi hidayah kepadaku sebagai seorang Islam
2.      Allah tidak menjadikan akan diantara golongan orang kafir.
Nikmat ini menjadi penentu nikmat-nikmat lainnya. Rasulullah menjanjikan jaminan kesuksesan, kebahagiaan pada Islam dan Iman. Sungguh sukseslah orang-orang beriman, sungguh beruntung orang yang Islam. Karena kebahagiaan yang haqiqi adalah bersama Islam. Lantas, sudahkah kita berislam dan beriman?.
Hakikat orang berbahagia ialah “hati yang tenang dan jiwa yang lapang”. Namun, banyak orang yang membayangkan kebahagiaan fatamorgana, bayangan semu. Ada juga yang membayangkan bahwa kebahagiaan itu bila sudah tenar dan kaya raya. Kebahagiaan itu letaknya di hati. Hati yang dipenuhi keimanan ialah hati yang berisi kebahagiaan yang haqiqi (sejati).
Orang hidup itu paketnya menyenangkan dan menyusahkan. Bagi orang mukmin, kedua hal itu adalah baik. Jika ada yang menyusahkan maka diubah. Jika ada kenikmatan, bersyukurlah dia (orang mukmin) dan itu baik untuk dia. Dan jika ada kesusahan, bersyukurlah dia, dan itu baik untuk dirinya. Orang yang selalu bersyukur, hatinya selalu dipenuhi oleh Allah. Ketenangan hati merupakan kebahagiaan dunia.
            Saat ini, kita telah diberi kenikmatan  berupa koneksi saudara yang cukup , uang cukup dll. Namun, akan datang hari dimana harta dan anak laki-laki anda tidak berguna lagi. Demi harta dan kekuasaan, hari ini banyak orang yang rela mengorbankan aqidahnya. Padahal akan datang hari dimana Allah tidak menerima apapun, walaupun pahala seberat bumi. Akan datang hari dimana kawan dekat tidak peduli dengan orang-orang lain. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing.  
            Hakikat rugi adalah rugi diakhirat, yang merugikan diri sendiri dan keluarga. Senikmat apapun nikmat di dunia, pasti tercampur dengan kesulitan.  Ada 3 pilihan mempergunakan harta:
1.      Dibelikan kemudian habis. Makanan
2.      Dipakaikan kemudian usang. Pakaian
3.      Disedekahkan kemudian kekal.
Jadilah orang dengan orientasi akhirat. Karena dunia yang kita nikmati itu sedikit, dan di akhirat kita nikmati banyak.
Hidayah islam itu sangat mahal. Islam yang lurus merupakan nikmat yang sangat besar. Karena dunia kita penuh dengan fitnahan, orang y tidak keluar dari fitnahan kecuali dengan yang berbekal ilmu (Ar- Risalah) yang dibawakan Rasulullah SAW. Ilmu ini akan menyelamatkan dari fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Fitnah syahwat yang merusak hati dan fitnah syubhat yang merusak akal pikiran.
Hati merupakan kehidupan dari jasad. Orang yang selalu memenuhi jasad, layaknya hidup seperti binatang. Hayatul Qolbi, kehidupan hati merupakan kehidupan iman. Iman yang hidup dihati, hatinya akan hidup. Hati dengan amal kebaikan bagaikan jantung dan darah. Menjadi komponen penting bagi tubuh. Hati yang hidup, maka amal-amalan akan dijalankan. Sedang hati yang mati, akan susah meniti jalan kepada Allah. Dan hati yang hidup, maka mudah meniti jalan kepada Allah.
Faktor yang menentukan seseorang bersyukur ialah dimana selalu menyadari kenikmatan Allah. Untuk mensyukuri nikmat Allah dilakukan dengan:
1.      Selalu mengingat nikmat Allah.
Maka kita akan senantiasa beryukur. Jangan sekali-kali kita menjadi orang yang melupakan Allah.
2.      Melalu kawan-kawan dekat kita.
Siapa orang kita jadikan kawan dekat dan kita pergauli itu ada 4 macam, yaitu:
a.       Orang yang modelnya seperti makanan.
Yang kita butuhkan melebihi yang kita inginkan, yaitu ulama. Kebutuhan akan ilmu itu seperti taarikan nafas. Orang yang terputus dengan ilmu, matilah hatinya.
b.      Orang modelnya seperti obat.
 Yang kita telan ketika butuh. Orang-orang yang kita butuhkan ketika kita butuh. Contohnya tukang sayur.
c.       Orang yang modelnya seperti penyakit.
Dimana, orang yang kita gauli menularkan penyakit. Penyakit sikap, perilaku dll yang buruk.
d.      Orang yang modelnya seperti racun.
contohnya ahli bid’ah, yang menyuntikkan radun pemikiran-pemikiran kepada orang lain.

3.      Berdoa kepada Allah SWT.
Berdoa kepada Allah merupakan cara kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. Jangan tinggalkan doa itu setelah sholat.
Hikmah diantara orang yang tidak beriman, namun memiliki kenikmatan, karena :
1.      Allah itu Ar-Rahman
Memberi kenikmatan kepada semua orang. Perbandingan nikmat dunia itu seperti tangan yang di celup ke lautan. Dan nikmatnya berupa sisa air yang menempel pada tangan. Oleh karena itu, hidup harus di orientasikan untuk akhirat. Dunia itu berjalan meninggalkan kita, sedang akhirat berjalan mendekati kita, dan pintunya adalah KEMATIAN.
2.      Dunia itu murah, dunia itu singkat.
Karena mudah didapat, dan langsung dirasakan, sedang akhirat belum dirasakan. Oleh karena itu jangan sampai tertipu dengan nikmat dunia.

Allah SWT selalu mengingatkan “dunia yang bermanfaat, yang menguntungkan akhirat”. Ingat bahwa nikmat yang sesungguhnya adalah nikmat iman dan nikmat Islam. Dan hendaklah setelah kita Islam, kita minta untuk di Istiqomahkan.
Seluruh kenikmatan, masih dibawah kenikmatan hidayah. Seluruh kenikmatan kesengsaraan, masih di bawah kesesatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar